Selasa, 04 Juli 2017

ANTOON VAN DEN BRAEMBUSSCHE - Paul Celan





PAUL CELAN

IV

Bagaimana cara menulis puisi
setelah Auschwitz?
Perkataan tak terbuka,
Tetapi mengerut
Dalam urat daun ketakutan,
Dalam cabutan akar sekejap.

Batu-batu purba dari ingatan,
yang tersentuh dan yang tak tersentuh,
Oleh waktu,
Waktu tak pernah ada,
dimana aku tak bisa
mengingat namamu lebih lama.

Batu-batu purba menyapa ingatanku,
Bukit Massada yang berdarah
dan merintih dalam rambut kemaluanmu:
kabar buruk
sama seperti Yahudi tanpa nama,
Sama seperti dusta
Mengaras dan tanpa jiwa



Terjemahan: © Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars
04-07-2017







PAUL CELAN

IV

Hoe een gedicht te schrijven
na Auschwitz
Het woord ontvouwt zich niet,
Maar krimpt
In bladnerven angst,
In de ontworteling van het ogenblik.

De menhirs van herinnering,
Beroerd en onberoerd,
Door tijd,
Een onbestaande tijd,
Waarin ik je naam
Niet langer herinner.

De menhirs groeten mijn vergeten,
De massada-heuvel die bloedt
En kermt in je venushaar:
Een Jobstijding
Even Joods als naamloos,
Even onwaarachtig als
Versteend en wezenloos.



Kanttekeningen
Penerbit: P, kota Leuven, 2007
Photo penyair: Karin Borghouts
Gambar sampul buku: Theo De Smedt




Kunjungi juga:
Frozen Poets - Patung-patung, kuburan dan jejak lain dari penyair2



www.alberthagenaars.nl



BLOG INI


Untuk memperkenalkan puisi bahasa Belanda dalam Indonesia dan Malaysia (di mana 270 juta manusia menggunakan bahasa yang sama) dan, untuk mempopulerkannya, Siti Wahyuningsih dan Albert Hagenaars di bulan Maret 2013 memulai dengan blog ‘Suara suara dari utara’. Mereka ingin menterjemahkan dan mempublikasikan puisi berasal dari Belanda dan Flandria (bagian dari Belgia yang mana berbicara bahasa Belanda, 61%).
Di waktu yang akan datang bisa juga puisi dari Suriname dan Antillen (pulau Antillen Belanda) mendapat tempat khusus di weblog ini.
Penterjemah yang lain diperbolehkan untuk bergabung dalam blog ini.




Siti Wahyuningsih



In order to introduce Dutch poetry in Indonesia and Malaysia (the national languages of both countries are quite similar) Siti Wahyuningsih and Albert Hagenaars started a blog with translations in March 2013. The name of this blog is ‘Suara suara dari utara’, which means ‘Northern voices’. Every month at least two poems by Dutch and Flemish authors are published. For a majority of over 6 million people in Belgium, Dutch is the native language. All together, 23 million people in Europe speak Dutch, which is less than 10% of all the people who speak Bahasa Indonesia or Bahasa Malaysia.



Om Nederlandstalige poëzie in Bahasa Indonesia en dus in Indonesië en feitelijk ook in Maleisië te introduceren (het gaat om een aaneengesloten taalgebied van 270 miljoen mensen) en, zo mogelijk, populair te helpen maken, begonnen Siti Wahyuningsih en Albert Hagenaars in maart 2013 een speciaal met dit doel opgezet weblog. De naam hiervan is: 'Suara suara dari utara', wat zoveel betekent als 'Stemmen uit het noorden'. Het is de bedoeling dat zowel Nederlandse als Vlaamse poëzie door hen wordt vertaald en gepubliceerd.

Klik hier voor een eerste reactie